Bandara merupakan suatu tempat dimana didalamnya terjadi perpisahan dan kedatangan dalam satu waktu.

Bandara merupakan tempat wajib yang akan aku lalui menuju pulang.

Hiruk pikuknya, berbagai manusia yang fokus pada kepulangan maupun kedatangannya. Didalam angannya terdapat kerinduan, penasaran, atau sebuah kincir mata uang.

Suasana tunggunya yang pikuk namun terasa pilu dan sepi.

Suasana pintu sambut yang penuh haru dan senyuman.

Ingatku pada kala itu moda transportasi ku yang mengalami penundaan kuranglebih selama 3 jam lamanya. Kesendirianku. Kesenduanku. Kesedihanku.

Semua dibawah kendaliku.

Ke toilet dengan rangkaian koper. Mengawasi setiap gerak gerik manusia yang lalu lalang. Mencoba menyibukkan diri.

Penerbangan malam itu terasa melelahkan. Didalamnya tercampur aduk antara pilu dan rindu.

Namun semua hilang seketika, ketika senyum ayah yang menanti di pintu sambut padahal sudah hampir tengah malam. Dengan bangga dia mengusap kepalaku dan berkata bahwa ia bangga padaku yang mandiri. Ia bangga bahwa aku bisa bepergian seorang diri. Ia bangga bahwa aku  dapat menjaga diriku dengan baik. Ia bangga padaku yang dapat sabar dan selamat hingga kepelukannya. Ia bangga padaku.

Pilu hingga rinduku terhapuskan sudah, ayahku bangga padaku.

Ditengah cuaca dingin, ia setia menantiku yang mengatakan bahwa aku akan naik moda transportasi umum saja daripada memintanya menjemputku dengan kondisi penglihatan yang tidak terlalu baik pada malam hari.

Ayah tak tau bahwa setiap perjalanan pulang, ditengah kesendirian akulah manusia yang paling lemah.  Ayah tak tau dibalik mandiri dan hebatnya aku berpergian sendiri terselip sepi dan sedih mendalam.

Tapi semua karena ayah. Karena rumah. Aku rela menanggung itu demi pulang, kerumah.

rumah tempatku kembali. tempatku berkeluh kesah. tempatku menjadi diriku.

dan kini aku rindu bandara.

Rindu pada proses dimana kesedihanku terbalaskan dengan senyuman dan kebanggaan ayah. Rindu pada proses kesepianku yang akan terbalaskan dengan kehebohan suasana rumah. Rindu pada proses akhirnya aku bisa melepaskan penat dan menjadi diriku. Rindu pada pelukan ibu dirumah yang menyambut anak bungsunya pulang padahal hanya membawakan tas tigapuluhlimaribu sebagai buah tangan, tidak seperti teman-temannya yang menggunakan tas mahal bermerk atau sekardus buah tangan yang membahagiakan.

Aku rindu.

 

 

 

 

 

Advertisements