Yogyakarta masihkah istimewa?

WAHADA NADYA

Jogja, jogja, jogja istimewa, istimewa orangnya, istimewa kotanya”

2015-11-11 05.23.59 1.jpg

Yogyakarta, kota istimewa. Begitu julukan kota ini ketika aku menginjakkan kaki untuk pertama kali di kota ini. Yogyakarta merupakan salah satu dari Daerah Istimewa yang ada di Indonesia, keistimewaan Yogyakarta salah satunya dilihat dari pemerintahannya yang dipimpin oleh seorang Sri Sultan. Selain itu, yang istimewa dari Yogyakarta adalah kota dan orangnya, begitu kata lirik lagu.

Kota dan orangnya. Apa relasi diantara kota dan masyarakat yang mendiaminya? Bukankah hal tersebut hal yang sangat kontras, dalam artian bagaimana mungkin hal yang bersifat buatan atau kota bisa memengaruhi masyarakat didalamnya, begitu pula sebaliknya. Namun, tahukah kamu? Dalam psikologi terdapat sebuah major yakni psikologi lingkungan dan psikologi perkotaan. Psikologi lingkungan sendiri membahas mengenai bagaimana hubungan interelasi antara tingkah laku manusia dengan ilmu fisik (alam dan buatan) dan lingkungan sosial (manusia) sebagai suatu lingkungan yang utuh dan tidak dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, yaitu lingkungan fisik dan sosial (Zulrizka Iskandar,1995). Sedangkan Psikologi Perkotaan adalah bidang ilmu psikologi yang menganalisis pengaruh penataan ruang kota terhadap faktor psikologis penduduknya.

Yogyakarta memiliki luas sebesar 32,8 km2 digolongkan sebagai salah satu kota besar di Indonesia. Dengan segala keistimewaanya, Yogyakarta bertransformasi untuk memenuhi kebutuhan warganya atau sekedar mencari peluang untuk investasi untuk pembangunan kota. Kini, Yogyakarta-pun dihias hingga sedemikian rupa. Pembangunan dan investasi peluang bisnis-pun baik dari investor lokal hingga mancanegara memanfaatkan situasi dan peluang ini untuk menanamkan modalnya, salah satunya di bidang perhotelan dan apartemen. Pada Bulan Maret 2016 tercatat bahwa total hotel yang ada di Yogyakarta adalah sekitar 87 hotel bintang 1, dan 1.100 hotel non bintang atau melati, (Data Perhimpunan Hotel dana Restoran Indonesia (PHRI) DIY).

Sejalan dengan maraknya pembangunan, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotorpun terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu faktor yang mendukung hal ini yaitu sistem kredit motor atau kendaraan yang semakin murah dan mudah sehingga membuat masyarakat semakin berbondong-bondong membeli kendaraan pribadi. Hal ini tak dipungkiri merupakan salah satu bentuk kekecewaan masyarakat terhadap kurangannya moda transportasi umum di Yogyakarta, yang masih bertahan dengan transjogjakarta, becak maupun ojek. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY tahun 2015 tercatat ada sekitar 199.858 jumlah kendaraan pribadi roda empat. Data tersebut belum termasuk data jumlah kendaraan bermotor roda dua maupun kendaraan yang digunakan untuk keperluan perusahaan dan company.

Gencarnya pembangunan serta pertumbuhan yang sedang terjadi di Yogyakarta sayangnya tidak didukung oleh keadaan lingkungan alam Yogyakarta. Menurut Pakar Hidrologi UGM, Prof.Dr. Ig. L. Setyawan Purnama, M.Si., sekitar 50 persen kawasan kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman mengalami krisis air. Kebutuhan air yang semakin meningkat membuat laju penurunan semakin naik dari tahun ke tahun, hal ini bertolak belakang dengan pemasukan air ke tanah yang justru semakin menurun. Hal ini terjadi salah satunya karena semakin berkurangnya daerah resapan air yang telah di konversi lahan.

Pertumbuhan serta perkembangan memang memiliki dua sisi mata uang. Ada keuntungan positif dengan semakin jalannya roda perekonomian, namun disisi lain misalnya yakni akan timbulnya kesemrawutan serta kebisingan dari pertumbuhan kendaraan bermotor yang ada di Yogyakarta. Menurut teori Psikologi lingkungan, kebisingan berarti suatu suara yang keluar dengan frekuensi tinggi ataupun tekanan tinggi dan merupakan pemaknaan psikologis.  Kendati dalam teori ini dikatakan kebisingan sangat bersikap subjektif atau tergantung pemaknaan yang menerima sumber suara, kebisingan sangat memiliki efek yang tidak di duga. Dimensi utama dalam variabel kebisingan seperti volume suara, predictability, serta pengontrolan persepsi bisa menganggu komunikasi verbal serta menimbulkan stress pada diri seseorang (Zulrizka Iskandar, 2011). Sejalan dengan hal tersebut penelitian dari Page (1977) menyatakan bahwa perilaku menolong akan berkurang sejalan dengan meningkatnya kebisingan. Tak hanya itu, kebisingan juga dapat meningkatkan perilaku agresi. Berkacalah, apa kabar Yogyakarta? Masih senyaman dahulu kah?

Tak hanya perihal kebisingan, pencemaran udara pun akan meningkat dan ternayat memiliki efek yang berbahaya. Berbagai gas buangan yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor, contohnya gas karbondioksida (CO) pada jam ramai yakni sekitar 25-125 parts per million (ppm). Ketika seseorang menerima udara kotor CO selama 90 menit, maka ia akan mengalami penurunan kecepatan pemrosesan informasi serta gangguan kemampuan mengingat pada short term memory dan juga long term memory.

Pembangunan berbagai hotel serta apartemen di Yogyakarta selain menimbulkan penurunan debit air karena konservasi lahan resapan air, hal ini akan membuat Yogyakarta semakin ramai dan roda perekonomian melalui sektor pariwisata berputar kencang. Namun, menurut teori Beban lingkungan dari Cohen (1978), keadaan yang ramai dengan asumsi seseorang yang memiliki kapasitas yang terbatas untuk memperoleh informasi akan membuat seseorang melakukan evaluasi terhadap berbagai stimulus lingkungan yang masuk. Pada kondisi Yogyakarta, mungkin dengan berbagai beban lingkungan seperti kesemrawutan lalu lintas, keadaan yang mulai ramai, serta adanya pemasalahan lingkungan seperti penurunan debit air disisi lain roda perekonomian yang terus berputar kencang, membuat masyarakat Yogyakarta berada pada situasi dan beban lingkungan yang sangat kompleks. Menurut Cohen, pada situasi tersebut, seseorang akan mengevaluasi setiap beban lingkungan dan memberikan standar terhadap stimulus yang menurutnya penting dan tidak penting. Kondisi ini terjadi karena stimulus yang terlalu banyak, sehingga terjadi seleksi dan seseorang tersebut tidak akan terlampau peduli dengan hal lain yang menurutnya tidak mengganggu kinerjanya serta menggugah perhatiannya. Pada situasi inilah seseorang akan mengalami penyakit kota.

Penyakit kota yang terjadi pada warga kota disebabkan oleh beban lingkungan yang begitu kompleks tadi sehingga dengan kapasitas yang terbatas, seseorang hanya merespon apa yang berkaitan dengan aktivitas dirinya dan lingkungan ‘perkotaannya’ . Hal ini menimbulkan penyakit kota yang ditandai dengan menurunnya kepekaan terhadap sekitar serta keadaan untuk cenderung bersikap individual. Situasi ini jelas menjelaskan bagaimana kota dapat membentuk masyarakat di dalamnya, begitu pula bagaimana masyarakat itu sendiri dapat membentuk kota itu sendiri. Apakah warga Yogyakarta sudah mulai terjangkit penyakit kota? Berkacalah, apa kabar Yogyakarta? Masihkah istimewa? Apakah kita dapat merubah kota atau kita yang dipengaruhi kota? Tentukan sikapmu, Yogyakarta!

Referensi :

  1. Iskandar, Zulrizka.2012.P
    sikologi Lingkungan : Teori dan Konsep.
    Bandung: Refika Aditama
  2. Berita :

https://www.merdeka.com/khas/setelah-hotel-dan-mal-apartemen-bakal-kepu ng-yogyakarta.html

https://tirto.id/risiko-dan-nasib-buruk-pembangunan-hotel-di-yogyakarta-bk Wg

https://ugm.ac.id/id/berita/12410-50.persen.wilayah.yogyakarta.dan.sleman.k risis.air

  1. Data statistik kendaraan :

http://yogyakarta.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/44

Advertisements