Malam itu aku berjalan menuju peristirahatan bersama seorang teman.

Banyak hal yang kami diskusikan dan aku sangat menikmati perjalanan tersebut.

Mulai dari opini mengenai nikah muda yang kini marak dikalangan mahasiswa, terutama mahasiswi sekitarku, mahasiswi Psikologi.

Aku bertanya perihal betapa aku tidak setuju dengan konsep itu. Konsep yang sangat terburu-buru pikirku.

Bagaimana bisa kita sebagai mahasiswa yang bahkan notabene belum siap secara apapun, baik mental dan finansial memiliki orientasi kesana. I mean, bukan berarti aku Anti terhadap pernikahan kedepannya, tentu, semua manusia dominan memiliki keinginan untuk berkeluarga. Namun, yang kufikirkan adalah tidakkah ‘mereka’ berfikir panjang? Bahwa dibalik bersatunya dua keluarga besar, akan ada satu keluarga kecil yang akan ditinggalkan? Akan ada tanggung jawab besar menanti didepan, tidakkah takut akan persiapan itu semua? Itu semua fikirku. Itu naifku.

Terlebih lagi lucunya, seorang temanku yang menggebu-gebu akan konsep tersebut berkata padaku seperti ini;

‘Aku ga jadi ah nikah muda’

‘Lah kenapa?’

‘Setelah melihat mas itu, aku ingin memantaskan diri terlebih dahulu’

‘Lah selama ini ga mau memantaskan diri dulu?’

‘Ga, hehehehe pengennya cepet aja’

‘Lahhhhhh hahaha’

Hal itu lucu bagiku karena sejatinya masih banyak orang yang menganut konsep ini tidak memahami, apa itu konsep nikah muda sendiri. Yang aku takutkan adalah dimana nanti mereka hanya akan menuntut pemenuhan biologis maupun membutuhkan sosok sandaran atau yang mengarahakan sementara hal lainnya diabaikan begitu saja.

Ini aneh menurutku dan aku tidak menyukainya.

Lalu setelah aku mengutarakan opini ku kepada teman seperjalananku tersebut, ia menjelaskan bahwa aku tidak bisa mengeneralisir opiniku.

‘Wah, kamu perlu tau bahwa ga semuanya orang yang setuju akan paham itu memiliki pandangan seperti itu. Itu hanya segelintir kasus yang kamu temui’

‘Gini ya, sepertinya ada dua paham dalam konsep tersebut. Ada yang benar-benar mengerti mengenai bagaimana konsep itu berdiri, maksudku ya, dia menjadikan hal tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan perbaikan dirinya, dan dia siap untuk itu. Nah disisi lain, ada yang tidak paham dan hanya mengadopsi konsep tersebut sebagai ya memang nikah muda.’

‘Sebenernya ya Wah, banyak kok tokoh-tokoh yang memilih nikah muda tapi tetap sukses secara finansial, keluarga yang ditinggalkan, apa lagi agama. Makanya tadi, aku bilang kamu jangan mengeneralisir Wah..Yang salah bukan mengenai konsepnya sih kalo kataku. Yang salah adalah pemikiran orang yang tidak paham tentang konsep itu apa. Nikah muda itu apa, seperti apa dan lain-lain.’

Lalu aku berfikir dan mengamini pernyataan temanku.

‘Iya.. bener kamu. Tapi sepenangkapanku, dalam agama kita, memang ada paham nikah muda itu, tapi kan disegerakan, disegerakan dengan apa nah itu yang perlu orang-orang perhatikan sih kalo menurutku. Pemikiran mereka harus diobrak abrik dulu’

‘Nah, bener banget. Bahkan ya Wah, disegerakan ini dalam artiannya kamu sudah siap Wah. Jadi hukum nikah bagi seseorang itu bisa saja menjadi wajib, sunnah, bahkan haram. Ketika dia sudah mapan dan tidak menikah, maka wajib baginya untuk menyegerakan. Ketika dia belum siap tapi ingin menyegerakan, maka haram baginya. Kamu coba baca-baca lagi deh.’

Aku tersandung lagi, masih saja diri ini terjebak dalam generalisasi dan pemikiran dangkal. Aku mengutuk diriku untuk itu.

Untuk semua mahasiswi yang memiliki keinginan nikah muda, ku himbau untuk paham dulu dengan konsepnya. Begitupula diriku, yang lebih senang mengomentari paham ini bahkan ragu untuk menganutnya. Semua tergantung dirimu, sudut mata pandangmu, hanya saja, sebaiknya kita paham apa yang akan kita lakukan.

Perjalanan dan diskusi, menarik.

Advertisements