Kemarin aku iseng mengikuti sebuah semnas yang diadakan oleh BEM KM. Mumpung akhir bulan, BEM baik sekali mengadakan semnas keren gratis di akhir bulan dan free lunch (ini yang terpenting).

Semnas ini keren sekali, ah aku gatau mau nulis apa. Aku speechless.

Aku mau numpang ngerangkum aja semua quotes dari narasumber yang luar binasa. Sejujurnya ada 4 narasumber, dari Prof. Ali, Guru besar Peternakan (Beliau hanya sebagai pembuka acara, tidak berbicara banyak) dan dari Sri Sultan Hamengkubuwono, Gubernur DIY (Beliau tidak hadir)

Prof. Armaidy, Guru Besar Filsafat                                                                      “Yang harus diubah dari Indonesia adalah : Government’s Characters and People’s Characters”

“Jadilah pendengar yang baik. Sesungguhnya Prof. Koesnadi pernah bercerita kepada saya bahwa menjadi pendengar lebih sulit daripada berbicara. Semua orang bisa berbicara, tapi tidak semua orang bisa menjadi pendengar”

“Karakter bagaimana yang dibutuhkan Indonesia saat ini? Yang jujur dan bertanggung jawab. Ingat, kejujuran itu perlu dijunjung tinggi, kemanapun anda pergi. Karena kejujuran adalah mata uang yang berlaku di seluruh dunia”

Closing statement dari Beliau adalah “Bertansformasilah jadi Indonesia yang sejati”

Prof. Ir. Dwikorita, Rektor UGM                                                                              Sesi dengan bu rektor sangatlah seru. Aku jadi bersyukur karena iseng mengikuti acara ini. Beliau luar biasa menginspirasi. Beliau merupakan rektor wanita pertama di UGM. Bertambah lagi pengetahuanku, rupanya beliau merupakan dosen Fakultas Teknik, Jurusan Geologi. Di sela-sela kesibukannya, Beliau hadir ditengah acara dan harus berangkat 30 menit lagi untuk kembali ke Jakarta. Hmm, jadi rektor sibuk ya.

Aku mungkin belum pernah melihat bagaimana jika rektor lain yang berbicara, namun beliau membuat ku terkesima. Beliau sama sekali tidak “formal”, i mean beliau merangkul kami, mahasiswa sebagai para audiens. Seperti tidak ada jarak, beliau turun ke bawah podium dan memulai materi di jarak tepat 200cm di dekat saya.

“Kenapa harus bersaing dengan UI, ITB, UII, ataupun UAJ atau univ lainnya. Itu bukan saingan kita. Saingan kita yang nyata adalah dari Kamboja, Vietnam, Thailand, Malaysia. Saingan kita adalah mahasiswa internasional. Seharusnya kita sebagai mahasiswa Indonesia saling merangkul untuk perbaikan negeri. Jangan mau di adu domba ataupun berkelahi antar mahasiswa. Kita itu satu, Indonesia.”

“Saat ini UGM sedang mengembangkan sebuah gerakan spirit yakni socioentrepreneur dimana kita harus menjadi mahasiswa yang pandai melihat peluang sekaligus berani mengambil resiko. Apalah guna qualified tapi tak berani mengambil resiko. Ini masalah anak UGM”

“Silakan mengglobal tapi jangan lupa pada kearifan lokal”

“Pada tahun 2030 Indonesia diperkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 4 di dunia. Dikarenakan adanya bonus demografi sebesar 70% atau adanya pertumbuhan usia produktif yang 2 kali lipat. Hal ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk maju, atau bisa menjadi bencana besar bagi Indonesia. Semua tergantung anda, karena andalah yang akan memimpin di masa itu”

“Jangan berkelahi”

Pada pernyataan beliau yang, “Jangan berkelahi” hampir seluruh audiens tertawa. Ini konyol sekali. wkwk beliau sempat-sempatnya bergurau mengenai Porsenigama yang sempat terjadi kericuhan antara supporter teknik dan vokasi.

And the last quote is

“Kalau goal anda hanya menjadi sarjana dan menghidupi diri dan keluarga anda sendiri, anda dipertanyakan kenapa masuk UGM?”

Sejujurnya ada beberapa kutipan lagi, cuman aku berhenti disini. Pernyataan terakhir membuatku malu.

Semoga, dimasa depan nanti, aku berhasil mengaktualisasikan diriku di kampus perjuangan ini. Kampus yang kudapatkan dengan penuh perjuangan. Kampus kerakyatan ini.

Aku gatau mau berkata apa lagi. Aku hanya teringat dengan pernyataan ku kepada Titik, temanku,”Tik, kalau mau mengubah sistem, kita harus masuk ke sistemnya”

Semoga.

Advertisements