Ku beritahu kau sebuah rahasia, rahasia kecilku.

Bahwa aku begitu menyukai perjalanan.
Tidak, aku bukan seseorang traveler dengan tas carrier nya. Tidak.
Tentang bagaimana sebuah perjalanan merupakan caraku untuk menghilangkan kesedihan.
Menyedihkan memang, seakan aku tidak memiliki seorang figur sahabat untuk bercerita. Tapi ya, aku memang lebih senang untuk berusaha mengatasi fikiran ku sendiri sebelum berbagi ke manusia lainnya.

Aku menyukai perjalanan. Menaiki kendaraan umum jalur manapun kemudian berdiam diri melihat jalanan dan merenungkan segalanya. Melihat berbagai aktivitas manusia, dan berfikir.
‘Semua orang mempunyai hal yang harus dilakukan dan tidak dilakukan. Semua orang berfikir’

Kebiasaan ini sudah kulakukan sedari SMP. Berawal dari keisengan aku dan teman-teman yang bertaruh untuk tidak memberhentikan laju angkutan umum. Berawal dari canda tawa kami di atas mobil tersebut, yang kemudian terjadi jeda di dalamnya. Keadaan tiba-tiba hening dan kami sibuk dengan fikiran masing-masing, menikmati jalanan.
Tersesat sudah menjadi bagian dalam perjalanan dan kami menyukainya.

Tak kusangka, setelah sekian lama tidak kulakukan hal tersebut, disini, di Jogjakarta, kebiasaanku ini tetap berlanjut.
Aku tidak sedang mengeluh, tapi kemarin adalah hari yang buruk bagiku.
Hujan, tapi aku tidak sedang mengutuk hujan, aku hanya menyayangkan mengapa hujan begitu mendukung situasi ini. Dan yang kedua, aku sakit.
Hal tersebut seakan mengacaukan suasana fikiranku.

Merenungkan segalanya, dan berfikir.
Ini tidak seharusnya terjadi.
Aku tidak boleh bersedih dan harus tetap semangat.
Sejatinya, aku mempunyai Sang penguasa tempatku berkeluh kesah.
Sejatinya, begitu banyak hal yang telah menunggu untuk dilakukan.

Kemudian, Aku turun dan meninggalkan segala kesedihan di bus.

Jogjakarta, 11/11/15

Advertisements